MonthFebruary 2020

Mengulas Lengkap Pengertian Bells Palsy, Gejala dan Cara Pengobatannya

Apakah Anda pernah mendengar tentang Bells Palsy? Jika belum, apakah Anda pernah melihat seseorang dengan wajah yang salah satu sisinya tampak melorot atau turun sehingga tidak simetris? Jika Anda mengira hal tersebut terjadi karena penyakit stroke, maka bisa jadi Anda salah karena wajah yang melorot di salah satu sisinya bukan hanya disebabkan karena stroke namun juga bisa disebabkan karena penyakit Bell’s Palsy.

Bell’s Palsy merupakan sebuah penyakit peradangan pada saraf wajah sehingga menyebabkan saraf yang terkena mengalami kelemahan. Penyakit ini hanya terjadi pada area wajah saja dan umumnya tidak bersifat permanen. Penderita Bell’s Palsy dengan obat-obatan dan terapi dapat mengembalikan kondisi saraf seperti semula setelah maksimal 6 bulan pengobatan. Hal ini tentu berbeda dengan stroke yang bisa menjadi permanen sesuai dengan kerusakan yang diakibatkan oleh serangan pertama kali. Namun penderita stroke yang melakukan terapi medik juga berkesempatan untuk bisa sembuh seperti semula.

Kondisi Bell’s Palsy disebabkan karena virus yang menyerang saraf di area wajah, selain itu infeksi telinga juga bisa menjadi penyebab terjadinya penyakit ini. Bell’s Palsy dapat terjadi pada siapa saja baik pria maupun wanita di segala usia. Namun pasien Bell’s Palsy lebih banyak saat berusia 15 hingga 60 tahun. Mereka yang memiliki diabetes juga cenderung memiliki resiko lebih tinggi terkena penyakit Bell’s Palsy ini. Selain dicirikan dengan salah satu sisi wajah yang melorot atau turun sehingga wajah tampak tidak simetris, penderita Bell’s Palsy juga bisa memiliki gejala lainnya seperti:

  • Sulit tersenyum.
  • Salah satu mata menutup atau susah tertutup.
  • Mengeluarkan air liur dan tidak bisa dikontrol.
  • Mengeluarkan air mata.

Untuk mendiagnosa Bell’s Palsy, dokter akan melakukan serangkaian tes seperti MRI, CT Scan, tes darah, elektromiografi dan lainnya. setelah pasien positif terkena Bell’s Palsy dokter akan memberikan serangkaian obat-obatan dan menjadwalkan terapi untuk mengembalikan fungsi saraf dan otot wajah seperti semula. Pengobatan biasanya menggunakan obat kortikosteroid dan terapi sesuai dengan tingkat kerusakan yang terjadi. Meski pada umumnya Bell’s Palsy dapat sembuh kembali, namun penyakit ini juga bisa menyebabkan komplikasi terutama akibat mata yang tidak bisa menutup. Seperti diketahui, mata berkedip memiliki fungsi tersendiri yaitu untuk membasahi kornea mata agar tidak kering. Bagi pasien Bell’s Palsy, ia pun harus tidur dengan mata terbuka. Kornea menjadi kering sebisa mungkin dicegah dengan cara meneteskan tetes mata yang diresepkan oleh dokter. Saat tidur, redupkan lampu untuk mengurangi percepatan kornea menjadi kering dan ketidaknyamanan pada mata.

Sampai saat ini penyebab pasti Bell’s Palsy ini belum diketahui dengan jelas. Namun ada riwayat garis keturunan dengan penyakit kelemahan otot wajah yang dapat meningkatkan resiko seseorang terkena Bell’s Palsy. Wanita hamil di trimester ketiga juga lebih rawan serta mereka yang memiliki kondisi penyakit autoimun seperti HIV.

Dapat disimpulkan bahwa kondisi muka yang melorot atau menurun di salah satu sisi belum tentu merupakan akibat dari penyakit stroke. Anda bisa langsung memeriksakan diri jika ini terjadi tiba-tiba agar dapat segera dicari penyebabnya dan mendapatkan pengobatan. Selain Bells Palsy dan stroke, ada beberapa sebab lain mengapa wajah mengalami ketidaksimetrisan termasuk tumor dan penyakit Lyme sehingga penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter untuk bisa diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan gejala tersebut terjadi dan mendapatkan pengobatan yang tepat.