Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk mengedepankan sisi batin daripada sisi lahir. Ini karena yang ada di dalam adalah ukhrawi dan sisi lahirnya yang cenderung duniawi. Oleh karena itu, sisi batin seseorang harus dicari lebih baik daripada sisi batin dirinya. Artinya kebaikan dari sisi lahir tidak bisa mengalahkan dari dalam. Demikian nasehat Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam buku yang berjudul Risâlatul Mu’âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, meskipun dalam buku tematik sekolah dasar kita sudah diajarkan hal ini.

Dari kutipan di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, mukmin harus selalu mengupayakan sisi batin yang lebih baik agar kondisinya lebih baik dari sisi lahir. Yang dimaksud dengan sisi batin adalah sisi yang dilihat oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai keimaman yang meliputi enam rukun iman dan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan lima rukun Islam dan hukum lainnya serta meninggalkan larangan-Nya.

Sedangkan yang dimaksud dengan sisi lahir adalah penampilan dan gerakan fisik yang dapat dilihat dengan jelas oleh siapapun. Penampilan fisik misalnya mengenakan pakaian, cara bicara yang anggun, memiliki dan menempati rumah, memiliki dan mengemudikan alat transportasi, dan sebagainya.

Jika sisi dalam seperti keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan itu buruk dalam artian banyak ketidaktaatan, sedangkan di dalam sama baiknya dengan memakai pakaian yang anggun, cara penataan pembicaraan sangat menarik, rumah milik. dan dihuni dengan kemewahan dan mobil yang sangat bagus dan mahal, maka Tuhan tidak menyukai hal-hal tersebut karena Dia lebih memilih dari sisi lahir daripada di dalam.

Kedua, bagian kelahiran harus dicoba dengan baik. Tapi yang jelas kebaikannya tidak bisa mengalahkan kebaikan batiniah. Jadi sebenarnya tidak ada batasan, kami memiliki sisi lahir yang baik. Oleh karena itu, kami juga didorong untuk membenahi area kelahiran. Tapi itu pertanyaan di hadapan Tuhan ketika sisi lahir lebih baik dari sisi dalam.

Contoh nyata jika seseorang terlihat menarik dalam kesehariannya dengan mengenakan pakaian yang bagus, tetapi pada saat yang sama perilakunya buruk, maka Tuhan tidak menyukai hal-hal seperti itu dan Tuhan juga marah.

Ketiga, manusia hanya dapat melihat sisi kelahirannya karena itulah batas pandangannya yang paling jauh. Manusia pada umumnya tidak dapat melihat melampaui batasan penglihatannya untuk menembus hal-hal internal sehingga perhatiannya lebih tertuju pada hal-hal eksternal.

Karena manusia lebih suka memperhatikan benda fisik, maka manusia juga disarankan memiliki sisi lahir yang baik. Dengan kata lain, ambisi manusia bersifat internal dan internal sehingga Tuhan menginginkannya untuk kebaikan batinnya.

Write Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

Tags